Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pelemahan rupiah hingga menyentuh Rp17.400 per dolar. KLIK-INFO, JAKARTA – Nilai tukar rupiah yang melemah hingga menyentuh level Rp17.400 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai dapat memicu kenaikan harga kebutuhan pokok serta memberi tekanan besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kondisi ini terjadi di tengah memanasnya konflik Timur Tengah dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Rijadh Djatu Winardi, menilai pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi tekanan global dan domestik yang terjadi secara bersamaan atau dikenal sebagai perfect storm.
Menurutnya, tensi geopolitik dunia membuat investor global beralih memburu dolar AS sebagai aset aman (safe haven). Kondisi tersebut menyebabkan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, semakin tertekan.
“Tekanan rupiah kali ini bukan hanya faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi kondisi dalam negeri seperti meningkatnya kebutuhan valuta asing dan kekhawatiran pasar terhadap ruang fiskal pemerintah,” ujar Rijadh, Minggu (10/5/2026).
Ia menjelaskan pelemahan rupiah berpotensi memicu inflasi impor, yakni kenaikan harga barang akibat mahalnya biaya impor. Industri yang masih bergantung pada bahan baku luar negeri diprediksi akan mengalami kenaikan biaya produksi yang akhirnya dibebankan kepada konsumen.
Akibatnya, masyarakat diperkirakan mulai merasakan kenaikan harga kebutuhan pokok, tarif transportasi, hingga produk kesehatan dalam beberapa bulan ke depan.
“Masyarakat kemungkinan akan menghadapi kenaikan harga sembako, biaya transportasi, dan kebutuhan kesehatan karena biaya impor meningkat,” katanya.
Tak hanya berdampak pada daya beli masyarakat, pelemahan rupiah juga dinilai dapat membebani APBN. Pos pengeluaran pemerintah yang berkaitan dengan kurs dolar seperti subsidi energi dan pembayaran utang luar negeri diperkirakan akan ikut meningkat.
Rijadh menilai tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor energi membuat beban subsidi semakin besar ketika nilai tukar rupiah melemah. Selain itu, pembayaran cicilan dan bunga utang luar negeri menjadi lebih mahal dalam rupiah.
“Jika anggaran terserap untuk subsidi dan pembayaran utang, maka ruang fiskal pemerintah untuk pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial bisa semakin sempit,” jelasnya.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia disebut menghadapi tantangan besar antara menjaga stabilitas rupiah dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Rijadh, langkah intervensi pasar valuta asing serta kebijakan penarik modal asing masih diperlukan agar tekanan terhadap rupiah tidak semakin dalam. Ia juga mendorong pemerintah memperkuat sektor pangan dan energi domestik guna mengurangi ketergantungan impor.
“Penguatan sektor pangan dan energi nasional penting agar masyarakat lebih tahan menghadapi gejolak ekonomi global,” tutupnya.
Tidak ada komentar