Waspada Hantavirus di Indonesia: 23 Kasus Terdeteksi, Ini Gejala dan Cara Penularannya

Klik-info
8 Mei 2026 22:44
2 menit membaca

KLIK-INFO, JAKARTA – Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan Hantavirus. Dalam tiga tahun terakhir, Indonesia mencatat sebanyak 23 pasien terinfeksi Hantavirus jenis Seoul Virus. Seluruh pasien tersebut dilaporkan mengalami gejala Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS).

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Aji Muhawarman, mengonfirmasi bahwa mayoritas pasien telah dinyatakan sembuh. Namun, terdapat laporan fatalitas yang perlu menjadi perhatian serius.

“Mereka gejalanya demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise atau lemas, dan jaundice yakni tubuh menguning,” konfirmasi Aji Muhawarman kepada detikcom, Jumat (8/5/2026).

Berdasarkan data medis, gejala Seoul Virus biasanya muncul dalam waktu satu hingga dua minggu setelah terpapar. Secara umum, gejalanya dinilai lebih ringan dibandingkan jenis Andes Virus, namun tetap harus diwaspadai.

Gejala utama Seoul Virus meliputi:

  • Demam dan sakit kepala.
  • Nyeri badan dan rasa lemas (malaise).
  • Kondisi tubuh menguning (jaundice).

Sebagai perbandingan, Andes Virus seperti yang sempat mewabah di kapal pesiar MV Hondius memiliki masa inkubasi hingga 17 hari dengan gejala sesak napas dan angka kematian yang lebih tinggi.

Dari total 23 kasus yang ditemukan, 20 pasien telah sembuh dan kembali beraktivitas normal. Sementara itu, tiga orang dinyatakan meninggal dunia. Kasus meninggal tersebut dilaporkan memiliki riwayat koinfeksi penyakit lain, termasuk kanker hati dan kegagalan multiorgan.

Penularan Hantavirus terjadi melalui hewan perantara (reservoir) seperti tikus dan celurut yang terinfeksi. Penularan bisa terjadi saat seseorang tidak sengaja menghirup debu terkontaminasi, atau kontak langsung dengan urine, air liur (saliva), kotoran (feses), hingga gigitan hewan tersebut.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menjauhi atau membersihkan tempat-tempat berisiko tinggi berikut:

  • Gedung-gedung lama.
  • Areaterbengkalai.
  • Ruang bawah tanah (basement).
  • Wilayah dengan populasi tikus yang tinggi.

Terkait penularan antarmanusia, Aji Muhawarman menekankan bahwa hal tersebut hanya terbatas pada tipe Hanta Pulmonary Syndrome (HPS) yang sering ditemukan di wilayah tertentu seperti Amerika Selatan dengan angka kematian mencapai 60%.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *