Biografi KH Husin Naparin, Ulama Terkemuka Kalsel yang Wafat 6 Mei 2026

Klik-info
7 Mei 2026 04:14
Tokoh 0
4 menit membaca

KLIK-INFO, BANJARMASIN– Bumi Banua berduka. Salah satu putra terbaiknya, penjaga benteng dakwah dan pelita literasi Islam, Muallim K.H. Husin Naparin, Lc., MA, telah berpulang ke Rahmatullah. Beliau mengembuskan napas terakhir pada hari Rabu, 6 Mei 2026, pukul 08.30 WITA di RS Islam Sultan Agung Banjarbaru, dalam usia 78 tahun.

Hingga saat-saat terakhirnya, beliau masih mengemban amanah agung sebagai Ketua Umum Pengurus Yayasan Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai, sebuah institusi pendidikan Islam legendaris yang mencetak ribuan ulama.

Dedikasi tanpa henti ini adalah cerminan dari seluruh perjalanan hidup beliau sebuah perjalanan panjang yang didedikasikan sepenuhnya untuk ilmu, dakwah, dan pengabdian umat.

Perjalanan inspiratif ini bermula dari desa Kalahiang, Paringin (kini Kabupaten Balangan), tempat Husin Naparin dilahirkan pada Senin, 10 November 1947 (24 Zulhijjah 1366 H). Lahir dari keluarga yang mengutamakan agama, bakat intelektualnya sudah terlihat sejak usia dini.

Pendidikan formalnya dimulai di SDN Kalahiang (lulus 1959), kemudian berlanjut ke PGA Swasta Komplek Al Hasaniah. Fondasi keislamannya semakin kokoh saat beliau mondok di Normal Islam Putera, Amuntai, lembaga pendidikan yang sangat dihormati di Banua (lulus 1967).

Semangat belajarnya tak pernah padam; beliau kemudian meraih gelar Sarjana Muda dari Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari Cabang Amuntai (1969).

Kehausan akan ilmu membawanya meninggalkan tanah air. Destinasi pertamanya adalah kota seribu menara, Kairo, Mesir. Di  Universitas Al-Azhar, kiblat ilmu Islam dunia, beliau meraih gelar Licence (Lc.) dari Jurusan Al-Da’wah wa al-Irsyad pada tahun 1976. Di Mesir pula, beliau mengasah kemampuan bahasa Inggris di American University in Cairo.

Petualangan intelektual beliau berlanjut ke Asia Selatan. Beliau merantau ke Pakistan dan meraih dua gelar Master (MA) sekaligus satu dalam bidang Islamic Studies dari Punjab University, Lahore (1986), dan satu lagi dalam bidang Bahasa Arab dari Islamic University, Islamabad (1987). Di Pakistan, beliau kembali mengasah kemampuan bahasa dengan mengambil kursus tingkat lanjut di The House of Knowledge, Islamabad.

Perjalanan ini membuktikan bahwa bagi KH Husin Naparin, ilmu adalah batas yang harus terus ditembus, lintas negara dan lintas bahasa.

Kembali ke tanah air, ilmu yang beliau timba tak dibiarkan mengendap. Karier pengabdian beliau sangat luas dan menyentuh berbagai lini:

Beliau adalah pimpinan sejati di dunia pesantren. Memimpin PP “Hunafaa” Banjarmasin sejak tahun 1985 dan dipercaya memimpin Yayasan Rakha Amuntai. Beliau juga aktif sebagai Dosen Luar Biasa di UIN (dahulu IAIN) Antasari dan Dosen di STAI Al Jami Banjarmasin.

Pengalaman internasionalnya diperkaya dengan bertugas di KBRI Jeddah, Arab Saudi, baik sebagai staf haji maupun staf lokal bagian politik selama beberapa tahun (1978–1983).

Beliau menduduki posisi-posisi krusial di Kalimantan Selatan, di antaranya:

  •  Ketua Umum MUI Kota Banjarmasin dua periode (1992–2002).
  • Ketua Umum Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin (1999–2004).
  • Ketua III Tanfiziah NU Tingkat I Kalimantan Selatan (1990–1995).

Di era 2000-an, peran beliau semakin meluas hingga ke sektor ekonomi syariah sebagai Dewan Pengawas Syariah Bank Kalsel (2004–2006) dan di bidang sosial-politik dengan ikut serta dalam tim pembentukan Kabupaten Balangan.

Salah satu warisan terbesar KH Husin Naparin adalah kontribusinya di dunia literasi. Bagi masyarakat Kalsel, nama beliau sangat lekat dengan rubrik **”FIKRAH”** di Banjarmasin Post yang beliau asuh sejak tahun 2000.

Beliau adalah ulama yang produktif menulis, menghasilkan puluhan buku rujukan seperti seri *Fikrah* (Jilid 1-4), *Memahami Al-Asma Al-Husna*, dan panduan ibadah haji.

Meskipun pencapaiannya begitu gemilang, KH Husin Naparin adalah sosok yang sangat tawadhu (rendah hati).

Hingga masa tuanya, di tengah kesibukan mengelola Pesantren “Hunafaa” dan Yayasan Rakha Amuntai, serta masih konsisten menulis dan mengisi ruang konsultasi di media massa (RRI dan Kalimantan Post), beliau terus melayani umat.

Wafatnya beliau di RS Islam Sultan Agung Banjarbaru, tak jauh dari jantung pemerintahan provinsi, adalah simbol bahwa hingga napas terakhirnya, beliau tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kehidupan Banua.

Selamat jalan, Muallim. Selamat jalan, Sang Penumpang Kafilah Dakwah yang Rendah Hati. “Kiprah secercah” yang beliau berikan telah menjadi obor penerang bagi pendidikan dan dakwah Islam di Kalimantan Selatan. Warisan ilmu, karya tulis, dan semangat pengabdiannya akan terus hidup dalam sanubari umat dan menjadi jariyah yang tak pernah terputus.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *